April 10, 2011

Flying Dutchman.....apakah. Mystery sangat ka ? Boringgg =.=

Assalamualaikum.

Kapal Hantu Yang Menghantui Tujuh Samudra sebelum namanya terkenal melalui trilogi layar perak Pirates of the Carribean, The Flying Dutchman lebih dulu popular sebagai hantu bajak laut yang ditakuti warga lautan dalam kartun Spongebob Squarepants. Dan berbeza dengan anggapan kebanyakan orang, nama tersebut merupakan nama sebuah kapal bukan nama orang. Sebenarnya dari mana asalnya legenda Flying Dutchman? Mengapa kapal hantu ini (menurut legenda) terus mengharungi lautan tanpa kenal lelah? Dan apakah benar kapten dari Flying Dutchman menjadi biang keladi yang membuat seluruh penghuni kapal itu gentayangan?
Sejarah Mitos dan Legenda
Catatan sejarah ternyata memuat banyak versi cerita dari Flying Dutchman. Salah satu yang tertua adalah kisah mengenai para pelaut belanda yang sangat bercita-cita tinggi dalam menakluki lautan. Pada abad 1500-1600, jauh sebelum Inggeris memiliki armada laut yang kuat, Belanda dikenal sebagai penakluk lautan. Disebutkan bahwa kapten Van Straaten adalah kapten yang teladan dan giat dalam mengharungi laut serta samudra, dan bersedia untuk mempertaruhkan segalanya demi menjadi kapten terkuat . Namun kerana keserakahan dan keangkuhannya maka Van Straaten dihukum oleh alam untuk hidup selamanya di atas kapal tanpa boleh berlabuh ke dermaga!! Khabarnya, konon kapal miliknya yang dinamakan The Flying Dutchman sering berkeliaran di daerah Cape of Good Hope dibahagian selatan Afrika. Dalam mitos setempat, kapal hantu Van Straaten dapat menularkan kutukan. Alhasil, para nelayan mahupun pelaut disarankan supaya mengubah haluan jika mereka berpapasan dengan kapal milik Van Straaten.
Lebih lanjut lagi, pada tahun 1821 dijumpai catatan bertulis pertama mengenai kisah Flying Dutchman. Dalam salah satu edisi Blackwood’s Magazine yang terbit pada bulan Mei di tahun tersebut, diceritakan bahawa sebuah armada laut Belanda dikutuk kerana telah menentang alam . Hendrik Van Der Decken merupakan kapten dari armada itu. Sebab terjadinya tragedi kutukan ini ialah kerana cita-citanya Van Der Decken yang amat tinggi untuk menyelesaikan misi mencari Cape of Good Hope. Namun berbeza sedikit dengan mitos tua Flying Dutchman, Blackwood’s Magazine mencatatkan lebih banyak butir-butir terperinci mengenai perjalanan sang kapten. 7 tahun setelah misi diberikan, Van Der Decken belum juga berjumpa Cape of Good Hope. Walaupun para anak-anak kapal sudah merasa putus asa, Namun kerana sang kapten mempunyai sifat yang sangat tegas maka tidak ada seorangpun yang berani menentang keinginannya. Sampai suatu malam Van Der Decken berhasil menemukan lokasinya Cape of Good Hope dengan bantuan teleskop. Namun untuk sampai kelokasi tersebut maka dia harus mengharungi badai yang menghadang di depannya. Kerana merasa kesal akhirnya Van Der Decken menyumpah pada angin kencang yang menghadangnya.
Tidak lama setelah itu sebuah kapal kecil berpapasan dengan kapal Van Der Decken, dan nelayan di kapal kecil tersebut memperingati sang kapten untuk tidak meneruskan perjalanan malam itu. Bukannya mematuhi atau setidaknya menghormati saranan si nelayan, Van Der Decken malah terus berkata bahwa dia lebih memilih untuk dikutuk dari berlayar selamanya sampai hari kiamat tiba daripada harus mengalah pada alam. Seketika itu juga, betapapun kerasnya usaha Van Der Decken namun dia beserta anak-anak kapalnya tidak lagi dapat menemukan dermaga untuk berlabuh. Beberapa kisah menyebutkan bahwa Van Der Decken sebenarnya tidak dikutuk dan bahkan dia hampir berjaya untuk berlabuh. Tetapi malangnya semua anak-anak kapalnya terkena wabak pes sehingga mereka tidak dibenarkan untuk berlabuh kerana takut akan menularkan penyakit itu pada penduduk kota. Kerana tidak mendapatkan pertolongan, seluruh anak-anak kapalnya beserta sang kapten akhirnya meninggal dalam pelayaran di tengah lautan. Rasa sakit hati membuat mereka menjadi arwah penasaran yang terus mengarungi lautan dengan kapal hantunya. Versi lain mencatat bahwa terjadi pembunuhan kejam dikapal Van Der Decken yang mengorbankan seluruh penghuninya!!
Beberapa catatan sejarah jadul lainnya mengatakan bahwa seorang kapten belanda bernama Bernard Fokke yang dikatakan menjadi kapten Flying Dutchman lainnya. Fokke juga digambarkan sebagai kapten yang sangat piawai dalam mengarungi lautan. Dikisahkan bahwa Fokke dapat berlayar dari Holland sampai ke pulau Jawa hanya dalam waktu yang sangat singkat. Hal ini sangat menghairankan banyak pihak kerana pada masa itu, kapal yang terpantas saja memerlukan waktu cukup lama untuk mencapai Jawa. Kepiwaiannya tersebut kemudian dicurigai oleh ramai orang yang berpendapat bahwa Fokke sebenarnya bekerjasama dengan para iblis sehingga kapalnya dapat berlayar begitu cepat.
Catatan Insiden Ternampak Hantu The Flying Dutchman
Apapun Versi ceritanya, The Flying Dutchman tetap dikenali sebagai kapal hantu yang sangat menyeramkan. Kisah mengenai Flying Dutchman juga dilengkapi dengan beberapa catatan penampakan. Salah satu yang paling terkenal adalah catatan dari Prince George of Wales yang kemudian dikenal sebagai King George V of United Kingdom. Catatan yang dibuatnya pada sekitar abad 1900-2000 tersebut mengatakan bahwa Prince George yang tengah berlayar dengan adiknya, Prince Albert Victor of Wales, melihat sebuah kapal aneh dekat perairan Australia. Dari atas Bacchante, kapal yang dinaiki George, 13 orang juga mengaku melihat sebuah kapal yang diselubungi kabut aneh pada ketika subuh. Tidak hanya suram, kapal yang yang dikatakan sebagai The Flying Dutchman tersebut diliputi kilauan aura berwarna merah darah!! Namun kerana tebalnya kabus yang terjadi, seluruh anak-anak kapal aneh tersebut tidak terlihat jelas. Karena penasaran maka Prince George memerintahkan beberapa anak-anak kapalnya untuk mendekati kapal tadi dengan memakai sekoci, namun mereka tidak berhasil menemukan siapapun. Dan dalam masa sekejap sahaja kapal aneh itu hilang ditelan kabus, padahal seharusnya kapal sebesar itu masih dapat dilihat menerusi teleskop dalam jarak 200 yard!!
Mitos Cinta Sang Kapten
Lalu bagaimana pula dengan kisah Davy Jones, kapten Flying Dutchman dalam Pirates of Carribean yang ternyata memiliki tragedi cinta dengan dewi laut bernama Calypso? Apakah kisah tersebut hanya karangan sang pencipta film belaka? Tidak seluruhnya benar, tapi juga tidak kesemuanya salah. Seiring dengan berjalannya waktu, banyak pengarang-pengarang dunia yang mengadaptasi legenda Flying Dutchman. Oleh kerana itu versi dalam kapal hantu tersebut semakin beragam. Pada tahun 1980-an, seorang pengarang sekaligus pelakon drama bernama Fitzball ikut mengadaptasi kisah Flying Dutchman. Untuk membuat kisah drama buatannya semakin dramatis maka disisipkan cerita bahwa sang kapten kapal menaruh cinta untuk seorang wanita yang pernah menolongnya. Tetapi akibat kutukan untuk berlayar selamanya, sang kapten akhirnya hanya memiliki kesempatan untuk menemui sang kekasih setiap 7 tahun sekali.
Menurut cerita dongeng, The Flying Dutchman adalah kapal hantu yang tidak akan pernah boleh berlabuh, tetapi harus mengarungi “tujuh lautan” selamanya. Flying Dutchman selalu terlihat dari jauh, kadang-kadang disinari dengan cahaya hantu.
Asal Usul:
Banyak versi dari cerita ini. Menurut beberapa, cerita ini berasal dari Belanda, sementara itu yang lain meng-claim bahwa itu berasal dari sandiwara Inggeris The Flying Dutchman (1826) oleh Edward Fitzball dan novel “The Phantom Ship” (1837) oleh Frederick Marryat, kemudian di adaptasi ke cerita Belanda “Het Vliegend Schip” (The Flying Ship) oleh pastor Belanda A.H.C. Rmer. Versi lainnya termasuk opera oleh Richard Wagner (1841) dan “The Flying Dutchman on Tappan Sea” oleh Washington Irving (1855).
Berdasarkan dari beberapa sumber, Kapten Belanda pada abad ke 17 Bernard Fokke adalah contoh dari kapten kapal hantu tersebut. Fokke mendapatkan kemasyhuran atas perjalan dari Belanda ke Jawa dengan kecepatan yang luar biasa dan dicurigai mempunyai ikatan dengan Iblis untuk meningkatkan kelajuannya. Berdasarkan dari beberapa sumber, kapten tersebut dipanggil dengan Falkenburg didalam cerita versi Belanda. Dia dipanggil dengan “Van der Decken” (maksudnya off the deck|Diatas Geladak) dalam versi Marryat’s dan “Ramhout van Dam” dalam versi Irving’s. Sumber tidak setuju bahwa “Flying Dutchman” adalah nama dari kapal atau nama panggilan untuk sang kapten.
Menurut banyak versi, sang kapten berjanji bahwa dia tidak akan mundur pada saat badai, tapi akan meneruskan usahanya untuk mencari Cape of Good Hope walaupun sampai hari kiamat. Menurut beberapa versi, kejahatan yang mengerikan telah terjadi, atau anak-anak kapalnya telah tertular oleh wabah penyakit pes dan tidak diizinkan untuk berlabuh di seluruh pelabuhan. Sejak itu, kapal dan anak-anaknya dihukum untuk selalu berlayar, tidak pernah kedarat. Menurut beberapa versi, ini terjadi pada tahun 1641, yang lain menebak tahun 1680 atau 1729.
Banyak catatan persamaan dari Flying Dutchman dengan kisah umat Kristen The Wandering Jew.
Terneuzen (Belanda) disebut sebagai rumah sang legenda Flying Dutchman, Van der Decken, seorang kapten yang mengutuk Tuhan dan telah dihukum untuk mengarungi lautan selamanya, telah diceritakan dalam novel karya Frederick Marryat – The Phantom Ship dan Richard Wagner opera.
Beberapa saksi yang melihat kapal hantu The Flying Dutchman :
1823 Kapten Oweb dari kapal HMS Leven; dua kali melihat kapal kosong yang terombang ambing di tengah samudera, salah satunya mungkin the Flying Dutchman.
1835 Sebuah kapal Inggeris sempat melihat The Flying Dutchman yang melaju kencang ke arahnya tapi setelah dekat menghilang begitu saja.
1879 Beberapa anak-anak kapal SS Petrogia sempat melihat kapal hantu tersebut.
1881 3 anak kapal HMS Baccante yang di dalamnya terdapat King George V melihatnya. Keesokan harinya seornag anak kapal yang melihatnya tiba-tiba mati secara mendadak.
1939 Dilihat di Mulkenzenberg, membuat orang-orang yang melihatnya bingung kerana tiba-tiba saja kapal tua itu menghilang begitu saja.
1941 Terdapat laporan dari Pantai Glenclaim tentang sebuah kapal tua yang melanggar karang. Setelah diselidiki tak ada sedikitpun bangkai kapal dijumpai di sekitarnya.
1942 Dilihat oleh kapal MHS Jubille berhampiran Cape Town, Afrika selatan”

0 comments: